Rabu, 07 Desember 2011

Pattimura

Pattimura. Di manakah dia kini? Apakah dia masih hidup? Atau
sudah tiada? Tanpa sadar kugigit bibirku. Asin. Bau darah. Ah, aku menyesal telah begitu membencimu, Pattimura. Tetapi apakah sesal yang berjejalan di dadaku dapat mengembalikanmu kemari?
"Patti..., Patti .... "
Suara Ibu! Suara itu masih parau, pilu separti bulan-bulan Ialu. Kupandang wajah Ibu. Batin yang tertancap beliung kepedihan membuatnya tampak pias dan tubuh kurusnya yang telah beberapa hari ini terbaring semakin ringkih saja.
"Patti..., apa sudah ada kabar dari Patti, Said?"
"Belum. Tapi kita tak boleh berputus asa. Berdoa dan berusaha. Kita harus melacaknya. Bukan begitu, Said?!" Aku menatap ke arah pintu kamar dan mengangguk. Bapak masuk dengan kening berkerut dan meletakkan tas kerjanya begitu saja di atas meja rias Ibu.
"Kau harus sembuh, Duma. Harus kuat. Insya Allah kita akan Menemukannya” Bapak mencium kening Ibu dan menggenggam tangan pucat itu lama. Sambil duduk, di ujung tempat tidur, aku menatap mereka dan diriku dalam cermin di kamar Ibu bergantian. Ah, betapa miripnya aku dengan mereka. Kulitku yang Iegam, rambutku yang keriting, bola mata yang bulat, bibir tebal dan Iebar, rahang persegi yang kokoh. Hanya hidungku Iebih mancung, karena Ibu tak berhenti menariknya setiap hari sehabis bangun tidur, sejak aku kecil. 

Sementara Patti? Tentu saja ia tak mirip dengan siapa pun di rumah ini. Ia yatim piatu yang dipungut Ibu dari panti asuhan, tiga belas tahun Ialu.
"Nah, kalian sebaya, sekarang kau punya teman, Said!"
Waktu itu umurku tujuh tahun dan aku cuma memandang dari atas ke bawah berkali-kali, sosok kurus dengan celana pendek dan baju yang kesempitan itu.
"AssaIaamuaIaikum," ia mengulurkan tangan dan tersenyum ramah. Ia tampan, hanya cara bicaranya mengingatkanku pada Om Suryono, teman Bapak yang orang Jawa itu.

"Ini Said, anakku. Said Perintah. Itu nama pahlawan dari Maluku yang melawan Belanda tahun 1817." Ia mengangguk Iagi. Dan ibuku, guru sejarah di sebuah sekolah Ianjutan di Jakarta ini malah memberinya sebuah nama baru.
Aku ingat, tiga belas tahun Ialu, aku tertawa mendengar ucapan Ibu. <terbakar. hatiku Sementara hitam. merah bekas Meninggalkan tembem. yang pipiku di melayang itu gadis dari tamparan sebuah>
Makanya, tak ada alasan untuk tak membenci Patti! Ia merampas semua perhatian dan cinta dalam keluarga ini! Bahkan Bi Iyem yang sudah bekerja di sini sejak aku belum Iahir, Iebih membela Pattimura daripada aku. Ini giIa!

***
"Kalau kamu takut tak diterima di UI atau ITB, kamu pilih Fakultas Teknik di Universitas Pattimura saja, Said!" seru Ibu saat kutanya pendapatnya setelah aku Iulus SMU. "Di sana kan pusat keluarga besar Marasabessy. Ada Om Saleh, Om Hasan, dan saudara-saudara kita yang Iain. Lagipula kalau memilih Unpatti, kemungkinan kamu diterima Iebih besar dari pada di UI atau ITB."
"Aku mau di UI atau ITB saja," kataku bersikeras.
"Mungkin Pattimura bisa, tetapi kamu? Ibu tak yakin. Nilai-nilaimu selama
ini kan pas-pasan." 

Pattimura Iagi! Dan saat kebencianku pada anak pungut itu semakin menggumpal, salahkah aku bila memintanya pergi?
"Pergilah yang jauh, Patti...yang jauh," pintaku padanya malam itu di beranda.
Sepi. Suara jangkrik mengerik-ngerik kepongahanku. Aku benar-benar datang untuk memohon.
"Mengapa kau membenciku? Aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri."Aku melihat segaris luka di matanya tertimpa cahaya bulan.
"Kalau kau menyayangiku. Bila kau ingin menganggapku adik, pergilah .... " "Tetapi .... "
"Aku tenggalam. Aku tercampak bila kau di sini. Biarkan aku mendapat perhatian keluarga dan teman-tamanku Iagi. Pergilah. Kau bisa ke Ambon. Bukankah ketika keluarga Marasabessy berkunjung, selalu kau yang mereka cari? Aku janji, Patti, kau tak akan kekurangan. Aku janji..., tolong aku sekali ini saja. Pergilah .... "